Senin, 10 Desember 2012

Kesadaran Berpendidikan

Ayo kita lihat bagaimana kondisi pendidikan di sekitar kita. Apakah gedung sekolah berdiri gagah dengan cat yang indah? Apakah setiap kelas berpendingin dan dipenuhi berbagai alat-alat canggih? Apakah ada berbagai laboratorium dengan teknologi yang begitu mengagumkan? Jika anda tinggal di kota, mungkin hampir semua jawabannya adalah YA! Semua hal yang berkaitan dengan materi (fisik atau infrastruktur) di kota pasti akan sering membuat anda berkata: “Wah…” Akan tetapi, coba anda bandingkan dengan kondisi manusianya. Kepala sekolah yang tak bisa menjadi contoh. Guru yang tak memiliki gairah untuk membagi ilmunya. Staff yang tak melayani dengan tulus. Hingga pelajar yang tak sadar mengapa mereka harus belajar di tempat formal pembelajaran (sekolah). Begitu kontradiktif. Inilah buah dari gagasan PEMBANGUNAN ala orde baru yang ternyata lebih mengedepankan aspek materi (kebendaan) daripada kesadaran (nilai-nilai). Padahal kesadaranlah yang mengarahkan materi, bukan sebaliknya. Kesadaranlah yang membuat seorang pelajar tidak menyontek, meski sebenarnya ia bisa melakukannya. Kesadaran pula yang membuat seorang guru bekerja keras untuk menemukan metode mengajar yang efektif, meski sebenarnya ia bisa tidak melakukannya. Kesadaranlah yang membuat semua orang yang terlibat dalam dunia pendidikan bergerak tulus karena nilai-nilai, bukan suruhan peraturan. Lihatlah bagaimana Bu Muslimah mengajar laskar pelangi! Penuh gairah positif dan semangat mendidik yang luar biasa. Apakah infrastruktur sekolah mereka bagus? Tidak. Karena keberhasilan pendidikan memang tidak ditentukan olehnya. Ibarat seorang wirausahawan, materi dan infrastruktur hanyalah modal, sedangkan kerja keras dan strategi jitu sang wirausahawanlah yang paling menentukan jumlah keuntungan. Jadi, yang paling pendidikan kita butuhkan untuk berhasil bukanlah infrastruktur megah nan canggih, tapi manusia-manusia yang memiliki kesadaran akan nilai-nilai, gairah positif, serta semangat juang untuk terus bergerak menuju tujuan. SALAM KREATIF

3 Contoh Budi Pekerti

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa pendidikan budi pekerti kini tengah didengungkan kembali. Semakin banyak masyarakat yang sadar dan tergerak untuk kembali pada karakter asli bangsa ini. Setelah membahas tentang implementasi dari pendidikan budi pekerti, kini saya ingin membahas contoh-contohnya. Dengan harapan, akan semakin banyak masyarakatnya yang sadar dan tergerakkan olehnya. Contoh-contoh ini sering kita lihat sehari-hari. Bahkan kita pun mungkin pernah melakukannya. Entah disengaja atau karena tuntutan keadaan. Yang jelas, contoh-contoh ini adalah refleksi dari kehidupan kita. Lalu... Apa sajakah contoh-contoh itu? 1. Terima kasih dan Sama-sama Coba anda pikir, berapa jumlah orang yang telah membantu anda hari ini? Orang tua anda, abang angkot, petugas kebersihan, guru, teman, penjual makanan, tukang asongan, pengamen, dll. Banyak bukan? Lalu... Berapa terima kasih yang telah anda ucapkan? Saya rasa hanya sekian persen dari keseluruhan. Padahal ucapan terima kasih yang disertai senyum tulus adalah balas jasa terindah dan 'lebih berasa' dibandingkan uang dan materi lainnya. Selain itu, kata terima kasih itu punya pasangan, ialah sama-sama. Jika kita sering ingin membalas orang yang berbuat jahat, mengapa kita tak membalas orang yang berbuat baik? Jangan sampai kata terimakasih yang telah orang lain ucapkan menguap begitu saja. Ikatlah kata itu di hati anda dengan sebuah balasan: sama-sama. 2. Maaf Manusia adalah tempatnya salah. Karena itu, mengapa kita tak meminta maaf? Padahal kita disuruh untuk melupakan setiap kebaikan yang telah kita lakukan dan mengingat betul setiap kesalahan yang telah kita lakukakan. Tapi mengapa? justru kebalikannya adalah fakta yang ada. Selain itu, saya juga sering melihat sebagian orang yang meminta maaf tanpa mengetahui kesalahan yang telah perbuat. seperti saat lebaran contohnya. Apakah ini akan berarti? Tidak! Kata maaf yang terlontar dari seorang yang tidak tahu apa kesalahannya hanyalah: hiasan bibir. 3. Meminta Izin Pernahkan anda mendapat permintaan izin dari komputer untuk menjalankan sesuatu? Lihat! Komputer saja meminta izin. Mengapa kita tidak? Padahal izin adalah pintu masuk menuju kesepahaman bersama. Ya itulah yang harus kita lakukan untuk menghindari kesalahpahaman. Meminta izin juga bisa memupuk kepercayaan dan menghindari kecurigaan sosial. Budi pekerti adalah sebuah bentuk penghargaan dan penghormatan kita terhadap orang lain. Bentuk dari kepercayaan adanya rasa saling membutuhkan dan dibutuhkan. Bentuk dari rasa syukur terhadap Allah SWT yang telah menciptakan dunia beserta isinya. Budi pekerti sebagai sebuah karakter bangsa Indonesia mengajarkan kita untuk senantiasa berperilaku dengan hati dan perasaan. Berkesesuaian dengan perintah Tuhan. Jelas... Di sini kecerdasan emosi, spiritual, dan sosial saling bersinergi dalam karakter setiap diri, bangsa Indonesia.

Implementasi Pendidikan Budi Pekerti di Indonesia

Pendidikan budi pekerti belakangan ini nampaknya kembali didengungkan. Melihat realitas masyarakat yang semakin minim etika akibat tergerus oleh arus westernisasi. Bahkan saya pun melihat di rencana strategis kemendiknas 2009-2014, hal ini sudah tercantum. Tapi mengapa, sebagai siswa saya belum melihat implementasinya di akar rumput atau setidaknya di tingkat menengah. Apakah benar, bangsa ini hanya bisa merencanakan tapi sulit merealisasikan? Daripada memikirkan tentang hal itu, saya memilih untuk lebih fokus pada solusi. Bagaimana implementasi dari pendidikan budi pekerti itu? Apakah dibuat pelajaran khusus? Di masukkan dalam ekstrakulikuler? Atau yang lain? Berdasarkan dari pengalaman saya, pelajaran yang berorientasi pada perilaku nampaknya sedikit kurang berhasil. Karena memang di sekolah, khususnya sekolah formal, pelajaran lebih ditekankan pada hal yang teoritis. Seperti pelajaran akhlak pada agama Islam, yaa begitu-begitu saja. Guru membahasnya di kelas, tapi toh siswa-siswanya tetap saja melakukan hal yang berlawan dari itu. Menurut saya, pelajaran yang berorientasi pada perilaku haruslah masuk pada tatanan perilaku pula. Sehingga akan lebih tepat jika pelajaran budi pekerti masuk dalam setiap pelajaran yang diajarkan dan tercermin dari perilaku guru sebagai tauladan. Selain itu, seruan-seruan etika juga bisa lebih masif jika dipromosikan oleh setiap guru mata pelajaran. Jadi, pelajaran budi pekerti tidak hanya dibebankan pada beberapa guru, tetapi semua guru adalah pengajar budi pekerti. Mereka bertutur dengan santun, memberi nasihat dengan bijak, mengajar dengan kasih sayang, dll. Selain itu, guru harus mulai meninggalkan gengsi feodalistik yang memberi jarak antara mereka dan siswa. Mereka harus berusaha untuk menjadi 'kakak' yang demokratis bagi siswa tapi tetap tegas terhadap prinsip. Dalam tatanan siswa, implementasi dari pendidikan budi pekerti adalah proaktif mencari pemahaman tentang budi pekerti, menimbang setiap nasihat, dan meyakini budi pekerti sebagai sebuah prinsip dan karakteri diri. Indonesia adalah bangsa yang mengedepankan budi pekerti dan etika. Mari memperbaiki keadaan yang sekarang ini dengan terus beraksi dan berkreasi, demi perubahan yang lebih baik.

Belajar untuk Tidak Sekadar Mengerti

Sudah jamak kita ketahui, di Dunia Pendidikan Indonesia saat ini, khususnya di sekolah formal, siswa hanya diajarkan untuk sekadar mengerti. Guru-guru menjejali kita dengan berbagai ilmu pengetahuan. Berbagai pelajaran. Berharap kita akan mengamalkannya jika telah lulus nanti. Yakin tuh? Saya ragu. Karena di sekolah, kita hanya dituntut untuk sekadar mengerti. Lalu, setelah kita diajarkan berbagai mata pelajaran, kita disuruh mengerjakan soal-soal ujian. Niatnya sih untuk mengetes seberapa mengerti kita tentang mata pelajaran tersebut. Tetapi bukankah kita belajar kembali menjelang ujian? Apakah dengan cara itu ilmu pengetahuan bisa nempel di otak? Atau hanya kita ingat-ingat menjelang ujian? Ritual ujian, apalagi ujian nasional, saya rasa telah disalahpahami oleh para siswa. Mereka mengejar nilai, pada guru-guru mereka berharap mereka mengerti dan bisa menerapkannya di kemudian hari. Bahkan, Finlandia, negara dengan pendidikan terbaik pun mengatakan bahwa ujian hanya akan mengacaukan pola pikir siswa dari makna dan tujuan sebenarnya dari belajar. Lihat! Untuk memastikan siswa benar-benar mengerti saja, masih sulit. Apalagi membuat siswa belajar lebih dari sekadar mengerti. Padahal tingkatan pengetahuan itu ada empat. Mengerti >> Menganalisis >> Merekonstruksi >> Mencipta. Ibarat HP, jika mengerti itu hanya tahu, oh ini HP, bisa buat ini itu. Jika menganalisis itu bisa tahu detail bagian-bagian HP tersebut, bahkan mempretelinya. Jika merekonstruksi itu bisa membuat kembali (meniru) bagian-bagian HP yang telah dipreteli itu (Bangsa China telah sampai pada tahap ini). Jika mencipta itu mampu menambahkan hal baru dari rekonstruksi yang telah kita lakukan. Meski begitu, tak ada guna jika kita hanya mengutuk masalah ini. Kita harus mencari solusi bersama dan menerapkannya mulai dari diri kita sendiri. Ada beberapa saran dari saya: Selalu belajar mandiri dengan sumber-sumber lain setelah diajarkan sesuatu dari sekolah Berusaha mengerti alur logika dan asal muasal dari pengetahuan yang kita dapatkan Menyambungkan pelajaran yang kita dapat dengan kejadian di kehidupan sehari-hari Mempraktikkan sekecil apa pun ilmu dan keterampilan yang kita dapatkan Menjadikan mengarang sebagai sarana untuk menyampaikan ide dan opini Sebagai siswa yang tak punya daya untuk mengubah sistem, kita tetap punya tanggung jawab untuk mengubah keadaan ini. Setidaknya dengan mengubah diri kita sendiri dahulu. Membiasakan lima hal di atas untuk meningkatkan tingkat pengetahuan kita. Untuk tidak sekadar mengerti, tetapi juga mampu mencipta! salam @Puja Kesuma

Kesediaan untuk Belajar

Bagaiamana mungkin. Sekelompok manusia dengan potensi yang tidak jauh beda dan guru beserta metode mengajar yang sama, meraih hasil yang berbeda. Beberapa orang sukses menyerap kearifan. Beberapa yang lain hanya berhenti pada tataran pengetahuan. Dan sebagian yang lain teralienasi dalam keterpaksaan belajar. Mungkin ini pula yang menyebabkan selalu ada stratifikasi sosial di setiap tempat belajar, ada elit yang pintar dan satelit yang ‘pintar’ (dalam arti yang berbeda). Kita biasa menyebutnya ranking atau peringkat. Hampir semua misi pewarisan nilai dan pengajaran mengalami masalah yang serupa. Termasuk kedua orang tua saya. “Tidak ada yang berbeda, ibu memberi perhatian ke semuanya kok,” tukas Ibu saya dengan yakin. Namun, fakta menunjukkan hal yang berbeda. Ada tata nilai yang berbeda antara saya dan kedua adik saya. Perbedaan yang membuat saya mengira ada perbedaan cara ajar Ibu saya terhadap kami bertiga. Hingga saya mengetahui konsep hidayah. Di mana porsi manusia hanyalah untuk berusaha. Ada Sang Maha Penentu Hasil yang tak terkira oleh indera dan spekulasi logika. Ini adalah bukti bahwa tidak ada yang namanya gagal dalam sebuah pengajaran. Karena hasil, Allah yang menentukan. Itu dari sudut pandang pengajar. Bagaimana dengan para pembelajar? Mengapa materi yang disampaikan dengan cara yang sama di tempat yang sama menghasilkan hasil yang berbeda? Jangan tanyakan itu pada logikamu. Karena mungkin jawabannya tersembunyi manis di balik hatimu. Bangkitkan ia dengan refleksi diri. Berkacalah dan kau akan temukan bercak hitam di kening yang tak terlihat dalam keadaan normal. Ini adalah soal kesediaan hati untuk menerima. Merendahkan demi pertambahan. Ini juga soal bagaimana berdiri di tengah. Tanpa rasa sombong bak di puncak atau rasa inferior bak di jurang terdalam. Di sini kerendahan hati adalah pintu pembuka menuju kepercayaan diri. Anda mungkin mendengar ‘celoteh inspiratif’ dari pengajar yang sama dengan teman di samping anda. Tapi, matanya lebih fokus dari anda, keingintahuannya lebih besar dari anda, pikirannya lebih bergejolak dari anda, dan semua itu berpangkal pada segumpal daging imajiner yang begitu luar biasa pengaruhnya: hati. Hati yang selalu merendah di depan orang berilmu, selalu lapangan di depan pengkritik, selalu peka di depan berbagai peristiwa. “Semua punya makna sehingga pasti selalu ada pembelajaran di baliknya,” begitu mungkin jika hati bisa bicara. Karena belajar bukan hanya soal prestasi, tetapi juga soal tradisi. Bagaimana menjadikan belajar sebagai kebiasaan dan mekanisme diri untuk lebih baik lagi. Bersediakah hati ini untuk belajar?

Mengajar dan Uang

Di saat saya masih belajar sebagai Mahasiswa. Baik di kelas lewat ‘celotehan inspiratif’ maupun serpihan inspirasi yang saya kumpulkan di sepanjang jalan yang saya lewati. Ada beberapa teman saya yang sudah menjadi guru. Mereka mengajar. Ada yang menjadi pengajar komersil di bimbel atau privat, tetapi ada juga yang menjadi pengajar sukarela di rumah belajar, rumah baca, atau apalah namanya. Keduanya memang sama-sama dibutuhkan mahasiswa. Menjadi pengajar komersil untuk tambahan uang di tengah harga bahan pokok kuliah (buku, fotocopy, pulsa, dll) yang terus melambung dan menjadi pengajar sukarela untuk melatih sensitivitas mahasiswa terhadap masalah akar rumput. Akan tetapi, tetap saja, keduanya memiliki beberapa perbedaan. Salah dua perbedaannya adalah soal persiapan sebelum mengajar dan dibayar atau tidaknya seorang pengajar. “Aduh, 4 jam lagi ada panggilan ngajar nih di blablabla (tempat dirahasiakan). Mendadak banget sih. Gimana persiapannya coba.” Ujar teman saya dengan agak panik sambil mencari buku rangkuman pelajaran IPS yang dia punya saat SMA. Itulah sedikit ilustrasi bagaimana pengajar komersil menyiapkan dirinya saat ingin mengajar. Mereka biasanya membaca materi yang seringkali sudah sempat dia pelajari, tetapi baru ingat lagi karena ingin mempersiapkan diri mengajar. Kalau saja, murid yang diajarkan sedikit kritis, bisa saja sang guru itu gelagapan karena dia tidak memegang akar materi yang diajarkan dengan kuat. Sang guru hanya memahaminya di permukaan. Meski tak tahu pasti, saya rasa ada juga pengajar komersil di sekolah atau lebih akrab dengan istilah guru yang serupa kasusnya dengan pengajar komersil di bimbel tersebut. Pemahaman permukaan semacam itu membuat ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi sebuah kenikmatan hati yang menggelayut di dada para pengajar, apalagi para pembelajar. Para pengajar hanya menjadikan aktivitasnya itu sebagai sarana mendapatkan uang. Tidak lebih. Maka menjadi wajar ketika para pembelajarnya pun hanya belajar tak lebih untuk mengerjakan soal-soal. Itulah mengapa, meski saya juga mau uang, saya masih belum terpikir untuk menjadi pengajar komersil di bimbel. Entah, bagaimana nanti. Saya pikir, situasinya agar berbeda pada pengajar sukarela. Mereka biasanya mengajar untuk anak-anak sehingga materinya pun tidak terlalu berat dan lebih banyak bermainnya. Mereka tidak banyak mempersipakan materi yang njelimet segala macam, modal mereka hanya pengalaman hidup dan keceriaan yang berusaha mereka bagi. Ini dia bedanya. Mereka mengajar untuk berbagai. Dalam arti, apa yang berikan adalah apa yang memang telah lama menempel dalam dirinya. Bukan materi yang baru saja dia baca di buku rangkuman. Itulah mengapa, terkadang nasihat dari seorang kakek atau nenek itu terasa lebih mengena sekaligus menyejukkan. Karena nasihat itu berakar dari pengalaman hidup mereka yang telah mengkristal menjadi sebuah kearifan, tingkat tertinggi dari ilmu pengetahuan. Terlebih, pengajar sukarela itu tidak dibayar. Mereka seperti kehilangan salah satu alasan utama untuk tidak tulus dalam mengajar. Secara alamiah, prinsip kesukarelaan ini akan menyeleksi para pengajar menjadi hanya yang benar-benar ingin berbagi dan mengincar kenikmatan hati dalam mengajar saja. Contoh lain yang agak unik adalah pengajar dalam kelompok mentoring ke-Islam-an atau kerap kali disebut halaqah. Mereka biasanya ada materi, tetapi materi tersebut sebisa mungkin tidak hanya dipahami secara mendalam tetapi juga dipraktekkan oleh si pengajar. Arah dari materi pun sebisa mungkin diarahkan pada hal-hal yang bersifat aplikatif misalnya disertai dengan pengecekan amalan harian seperti sholat atau tilawah (membaca Quran). Sejauh yang saya lihat, kesukarelaan adalah cara terbaik untuk mengajar. Meskipun begitu, saya tidak menafikan ada yang coba memadukan keduanya. Salah satu yang cukup berhasil adalah Gerakan Indonesia Mengajar (IM). Bukan bermaksud mendewa-dewakan IM. Akan tetapi, memang baru IM-lah gerakan pengajaran yang terpublikasi dengan baik di tengah masyarakat. Anis Baswedan beserta tim saya rasa cukup mampu membuat profesi sebagai pengajar komersil (di SD pelosok) tetap memiliki sense kesukarelaan yang berakar pada filosofi mengajar yang dalam. Saya pun tidak menafikan adanya pengajar-pengajar komersil yang meski mengejar uang demi memenuhi kebutuhan hidup, tetapi tetap mengajar dengan tulus dan sepenuh hati. Ya! Uang memang godaan berat bagi setiap pengajar untuk tidak tulus mengajar. Menggoda pengajar untuk sekadar menyampaikan materi tanpa pemahaman mendalam dan keikutsertaan hati. Namun, jika mereka mampu mengatasinya. Mengapa tidak?